Home / Pendapat / Mengintai mahasiswa revolusioner oleh Rien Sd

Mengintai mahasiswa revolusioner oleh Rien Sd

Apa yang lebih seksi daripada ungkapan berapi Soekarno; beri aku sepuluh pemuda, nescaya akan kuguncangkan dunia? dan kemudian tuhan mengirim sepasukan pemuda dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia yang meradu rejim pemerintahannya menerusi Aksi Mahasiswa 66- yang ketika itu turut dikemudi sang ideologis Soe Hok Gie- meruntuhkan rejim Soekarno meskipun bergilir diganti autoritarian orde baru. 

Selalu dalam sejarah, pergeseran politik di ruang awam dikemudi oleh mahasiswa revolusioner yang percaya kepada cita-cita keadilan sosial. Mahasiswa revolusioner adalah yang bertumbuh pasca keberanian mereka menolak kulit propaganda politik pemerintah yang membalut tubuh pendidikan dalam kampus. Keinginan dan kesungguhan mereka menolak dan meruntuhkan tubuh hegemoni- menurut Gramsci “a social condition in which all aspects of social reality are dominated by or supportive of a single class”– dalam masyarakat. 

Pendidikan di kampus sering ditanggapi sebagai entiti yang tiada kena mengena dengan politik kekuasaan (state) dan pasar (market). Sehingga para pemuda yang seharusnya menjadi idealis dan menjadi al masih yang boleh merungkai permasalah sosial dari dalam kampus bertukar menopause dan kematian fungsinya. 

Saya cuba meminjam wacana pendidikan kritis (critical pedagogy) yang pernah dipandu oleh beberapa aliran pemikiran yang penting dalam menumbuhkan manusia revolusioner antaranya mazhab Frankfurt, Paulo Freire dan Antonio Gramsci dalam menanggapi hubungan intim antara pendidikan, kuasa dan modal. 

Sebelum kita mengintai dinamika banyak siri pergerakan mahasiswa revolusioner di Malaysia, terutamanya fungsi sosial mereka dalam membawa kapal demokrasi dalam negara, saya akan membawa kita ke permukaan diskusi pendidikan kritis yang selalunya berhujung kepada lahirnya manusia revolusioner atau dalam konteks esei ini, mahasiswa revolusioner yang menegak di tengah sfera publik dan berperanan dalam strata masyarakatnya. 

Mahasiswa revolusioner adalah unit masyarakat yang bersikap dan berani menyatakan kebenaran meskipun harga yang perlu dibayar adalah korban dan dituduh menganggu keamanan.

Pemandulan pemikiran

Literasi pemikiran rakyat Malaysia selalu disumbat dan disolekkan dengan muatan propaganda politik pemerintah. Di media sosial sehingga kepada akses pertukaran maklumat hari ini telah didiktat oleh kampus pemerintah dan memaksa kita untuk menyangka dan menerima ianya sebagai kebenaran mutlak dan tiada lagi keperluan untuk menyemak dan menyingkap. 

Dari bangku sekolah ke kampus, kita selalu terperangkap dalam culture of positivism yang keluar dari rahim kapitalisme. Pelajar dan mahasiswa selalu diletak dalam ruang yang direkabentuk sesuai dengan keinginan kuasa dan pasaran. Belajar untuk bekerja. Dan yang lebih jjik adalah meminjam jargon keadilan sosial untuk menjustifikasikan kegedikan mereka bekerja untuk pemerintah serta menjadi apparatus aparat yang akan memperpanjangkan cita penindasan ke atas publik. 

Pemandulan pemikiran ini sangat sistematik, berstruktur dan terancang. Seakan-akan ada penyelarasan modul oleh banyaknya hegemoni- yang kerap bertukar baju namun masih berupa sama- dalam sejarah doktrinisasi moral politik oleh pemerintah di dunia. 

Ianya sengaja disusun untuk melahirkan masyarakat patuh kerana semangat revolusioner selalu menganggu tidur malam para cukong dan lintah darat yang merancang menyedut ghanimah dan hasil mahsul negara untuk diisi ke dalam kerongkongnya. 

Segala mafsadat dan kemusnahan sosial ini bermula apabila mahasiswa terutamanya diletakkan jauh dari cita keadilan dan rapuh semangat revolusionernya. Perlahan-lahan menumpul dan menikus. Mereka sudah tidak tertarik untuk menyelidik hubungan intim antara pendidikan, pengetahuan politik dan kekuasaan. 

Ketika ini berlarutan, massa akan kematian barisan hadapan. Pergelutan antara rakyat dan aparat akan kelam dan suram apabila mahasiswa serba serbi tercabut dari language of critique dan language of possibility seperti yang pernah disinggung oleh Henry A Giroux, 

“Critical education operates on two basic assumption. One, there is a need for a language of critique, a questioning of presuppositions. The second base assumption of radical education is a language of possibility. It goes beyond critique to elaborate a positive language of human”

Mahasiwa & Massa

Di tulisan lain, saya akan cuba menulis perihal mazhab pendidikan kritis atau menurut Paula Allman sebagai revolutionary pedagogy memandangkan keperluannya untuk memecahkan pagar propaganda pemerintah yang serba serbi terancang untuk mengelirukan masyarakat terutamanya para mahasiswa dari memihak dan menggugat keputusan elit pemerintah di atas. 

Sejarah gerakan mahasiswa di Malaysia sempat merakam banyak siri dialektika politik antara mahasiswa dan pemerintah. Tidak kurangnya aksi-aksi langsung yang meninggalkan bekas dalam sejarah panjang perlawanan rakyat kelas bawah dalam negara. Mahasiswa pemberani ini selalu didorong oleh cita dan ideologi yang mapan. Kumpulan masyarakat yang “nothing to lose” ini sentiasa berkobar, mencabar dan  liar. 

Dari Peristiwa Baling- keseriusan mahasiswa untuk memihak dan berdiri bersama petani- kepada gerakan autonomi universiti yang menolak AUKU kepada wacana tanding “Pendidikan Percuma” kepada partisipasi mahasiswa dalam literasi demokrasi dan pendidikan sivik dan yang terbaru bertumbuhnya gerakan mahasiswa revolusioner dalam kalangan Gen Z yang merayakan protes sebagai riadah politik di jalanan. 

Mahasiswa yang mula memerhati manhaj dan metodologi protes dengan pertimbangan algorithm. Kuantiti demonstran di jalan raya bukan lagi indikator namun evaluasi konkrit mereka ke atas partisipasi Gen Z di ruang digital telah menjadikan perlawanan merebak dan menysup masuk ke bebola mata rakyat. 

Mahasiswa dalam stereotaip pemerintah selalu dianggap budak yang belum mencapai baligh politik. Otak mereka selalu diragui dalam membuat keputusan sosial dan antitesis mereka selalu diejek sebagai argumen yang belum siap. Was-was ini selalu dihembus oleh penyihir politik yang cuba menimbulkan dikotomi antara mahasiswa dan massa. Ini kerana sejarah sentiasa mengingatkan dan menggusarkan para aparat tercela ini betapa bahayanya apabila mahasiswa mula menyiasat peranan sosialnya, mencair bersama massa dan menemukan sifir untuk mencipta pertengakaran sosial yang selalu mempertikai nafsu serakah elit berkuasa. 

Massa yang meraba-raba dalam gelap pasca dihenyak dan diherdik oleh pemerintah haruslah berhenti mencari dukun politik yang kerap berbohong dan menawarkan pelampung penyelamat di tengah kerasnya pembantaian. Mereka ini muncul dengan dokumen penipuan dan selalu mengemis kekuasaan. 

Massa haruslah meletakkan kepercayaan kepada mahasiswa sebagai manusia revolusioner yang tercerah untuk membuka laluan perlawanan dan percakapan demokrasi dalam negara. 

Protes Pemikiran

Bagi mempersiapkan gerakan mahasiswa yang akan dipimpin oleh manusia revolusioner yang sedar akan tanggungjawab sosialnya dan meletakkan kedaulatan rakyat sebagai keutamaan serta mempunyai stamina dalam mengevaluasi prestasi politik pemerintah, mereka harus memposisikan diri sebagai manusia tercerah di dalam kampus. Rausyanfikir atau intelektual organik atau apa sahaja gelaran yang memperelok keterampilan pemikiran. 

Di tengah pertukangan mahasiswa revolusioner ini, ramai mahasiswa korporat perlahan-lahan beralih menjadi kaki, tangan dan lutut pemerintah apabila mereka dipancing dengan umpan kekuasaan. Mahasiswa yang terjun ke dalam aktivisme kampus sentiasa digoda oleh cita kekuasaan. Sehingga mereka menyangka urusan perubahan sosial sentiasa perlu dibungkus dan dijual ke pejabat menteri. 

Gerakan mahasiswa yang percaya bahawa cita keadilan mesti berhujung dengan partisipasi politik kepartian adalah gerakan mahasiswa jinak yang akhirnya terperangkap dan terjerat dalam projek pembungkaman oleh pemerintah. Cuping telinga mereka dihiris oleh belati tajam pemerintah sehingga segala yang masuk ke dalam gegendang telinga adalah perkakas politik kepartian yang cuba menawarkan rumus keadilan yang picisan dan bercita jawatan. 

Mahasiswa jinak ini telah dicilok hidup-hidup tanpa mereka sedari. Mereka menyangka ianya seruan dakwah para nabi. Gerakan mahasiswa revolusioner harus mengambil tanggungjawab untuk menarik keluar kelompok yang menyundal kepada kekuasaan ini keluar daripada gelapnya industri pekerjaan menjilat pemerintah ini. Bagi bilis-bilis aparat yang mula meletakkan kecintaannya kepada kekuasaan dan berakidahkan rumus perubahan “from top the bottom” ini mestilah dibenam menerusi debat dan dialog yang liar. 

Gerakan mahasiswa yang revolusioner harus lebih rajin meriadahkan pemikiran dengan menumbuhkan banyak perdebatan, pertengkaran pemikiran dan diskusi yang liar. Autonomi pemikiran sebelum autonomi universiti. Segala aksi perlawanan yang menjalar pasca wacana liar akan lebih mencabar berhala kekuasaan. 

Mahasiswa revolusioner yang mempersembahkan protes jalanan dan protes pemikiran serentak adalah pemuda dan pemudi idealis  yang menjadi tuntutan sosial yang mendesak di tengah masyarakat yang kekurangan akses kepada literasi politik yang memihak. 

Untuk banyak siri protes dan wacana yang dipimpin oleh mahasiswa revolusioner di negara ini termasuklah perkumpulan-perkumpulan mahasiswa yang tercerah dan tersedar untuk bergaul dalam pergelutan masyarakatnya; Liga Mahasiswa Malaysia, Federasi Pemuda Kebangsaan, Suara Mahasiswa, Gerakan Perempuan Melawan, Himpunan Advokasi Rakyat Malaysia dan banyak lagi. Terima kasih menjadi barisan hadapan. Tumbuhlah benih-benih perlawanan. 

Panjang umur, mahasiswa revolusioner!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *